Oleh: Hendra Yudhanto
Berbicara Komunisme banyak rakyat Indonesia terbayang dengan stigma radikalisme, atheisme, dan materialisme. Paham Komunis di Indonesia yang di terapkan oleh partai komunis Indonesia (PKI) mempunyai sejarah buruk lewat pemberontakan di Madiun (Madiun affair) oleh Muso pada tahun 1948 dan tentu pemberontakan yang masih banyak di bicarakan orang sampai saat ini yaitu tuduhan mengenai pembunuhan 6 jendral TNI AD di jakarta yang lebih di kenal dengan peristiwa G30s. Dua peristiwa bersejarah yang mencoreng dengan tinta hitam di muka komunis Indonesia menjadi ideologi yang awalnya di cintai rakyat menjadi yang di benci dan harus di musnahkan dari tanah air.
Tidak ada peristiwa besar dalam seratus tahun terakhir tanpa pengaruh dari pikiran Marx. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Frederick Engels sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas dan ekonomi kesejahteraan. Marx di lahirkan pada tanggal 5 mei 1818 di Trevirorum (kini Trier) Jerman. Marx kecil telah banyak mempelajari hukum dari ayahnya yang bernama Herschel, seorang ahli hukum yang demi menjadi seorang pengacara ia rela merubah agamanya dari yahudi menjadi kristen lutheran yang relatif liberal. Herschel mempelajari hukum di universitas bonn walaupun ia seorang pekerja keras namun sifat buruknya yang suka memburu wanita dan anggur membuat ia kehilangan mata pekerjaannya. Ia pindah ke Berlin, di sana ia berubah menjadi orang yang atheis dan subversif. Ayah Marx yang seorang kristen lutheran membuat Marx muda menjadi seorang lutheran, walau asal usul Marx seorang yahudi namun ia tidak menggangap dirinya seorang yahudi dan tidak pernah menjalani agama yahudi sekalipun. Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835. Kemudian pindah ke universitas pusat pikiran pikiran baru pada masa itu Friedrich-Wilhelms-Universitat di berlin.

